Lisan Mulia Seorang Muslim

Lisan Mulia Seorang Muslim




Oleh: Lismawati S.pd



Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengingatkan kita, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” pesan yang mengisyaratkan bahwa berbicara yang baik adalah bagian dari iman yang sempurna.


Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah menjelaskan bahwa lisan adalah salah satu anggota tubuh yang paling aktif berperan. maka penting bagi seorang muslim untuk tunduk dan mematuri perintah Allah, termasuk dalam berkata-kata yang baik.


Perkataan yang buruk akan membawa pada kita pada celaka dan laknat Allah, Bahkan Rasulullah meminta kita untuk menutup mulut jika tidak dapat berbicara yang baik. Menunjukkan kedudukan lisan sangat penting.


Ada sebuah berita viral beberapa bulan yang lalu di Balangan, Kalimantan Selatan, tentang seorang suami yang tega menghabisi nyawa istrinya sendiri. Motif pembunuhan bukan tentang ekonomi, perselingkuhan, Namun lantaran sakit hati atas ucapan istrinya.


Termasuk banyaknya kasus bullying yang sudah tidak lagi bisa dihitung jumlahnya. Banyak kasus bunuh diri juga terjadi akibat bullying verbal. Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyoroti meningkatnya potensi perundungan atau bullying verbal di lingkungan sekolah. (https://www.tintaborneo.com/2025/11/4)


Terkadang disadari atau tanpa sadari perkataan kita menyakiti orang lain, etika dalam berbicara mulai terkikis dengan perkembangan zaman dan media sosial. Kata slang yang menunjuk konotasi negatif dan umpatan menjadi hal lumrah dikalangan masyarakat muslim.


Sudah menjadi keharusan bagi seorang muslim untuk memperhatikan, menjaga serta memelihara lisannya. Untuk menggunakannya dalam perkara yang membawa manfaat serta memperoleh pahala. Rasulullah saw. bersabda, “Inna aktsara khathâyâ ibn âdam fî lisânihi (Sesungguhnya kesalahan manusia yang paling banyak bersumber dari lisannya).” (Ath-Thabrani, Mu’jam al-Kabîr, X/197)



Bagaimana agar lisan senantiasa mulia?



Pertama, Gunakanlah lisan untuk berdzikir kepada Allah SWT. Muadz bin Jabbal pernah bertanya kepada Rasul, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Lisanmu senantiasa basah karena selalu berzikir kepada Allah.” (Ibnu al-Mubarak, Az-Zuhd wa ar-Raqa’iq, I/328).



Kedua, Gunakan lisanmu untuk berdakwah dan saling menasehati dalam kebaikan.

إِنَّ افَضَلَ الصَّدَقَةِ صَدَقَةُ اللسَانٍ

"Sedekah yang paling utama adalah sedekah lisan).” (Asy-Suyuthi, Al-Jâmi’ ash-Shaghîr, I/91). Maksud diantaranya yaitu, lisan yang mengandung hidayah yang bisa menyelamatkan penuturnya dan orang lain di akhirat. (Al-Munawi, Faydh al-Qadîr, 8/102).


وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ۝٣٣


“Siapakah yang lebih baik ucapan (lisannya) dibandingkan dengan orang yang berdakwah (menyeru manusia) kepada Allah, beramal saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah bagian dari kaum muslim.’” (QS Fushilat [41]: 33).



InsyaaAllah dengan senatiasa melakukannya, lisan kita akan mulia dan senatiasa terjaga di dunia maupun di akhirat. Bukan hanya lisan yang terucap langsung, namun juga lisan yang tertulis dalam media-media sosial kita, seperti FB, IG, Blog, dsb. Hina dan mulianya seorang muslim tergantung pada lisannya.


وَمَا تَوْفِيقِىٓ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

"Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali." (QS. Al-Hud ayat 88).



 Wallahu A'lam.

Posting Komentar

0 Komentar