Oleh: Lismawati-Mahasiswi dan
Penulis
Dewasa
ini, perkembangan teknologi yang semakin maju diiringi industrialisasi pada
banyak aspek telah menyebar di seluruh penjuru negara, termasuk Indonesia.
Mengambil konsep dengan mengalihkan pandangan negara mayoritas kaum muslim pada
peradaban Barat sebagai acuan kehidupan era industrial.
Jika
ditilik lebih dalam lagi mengenai perkembangan zaman yang kini semakin maju. Tidak
dipungkiri bahwa Negara Barat menjadi mencusuar yang sangat diagungkan oleh
negara muslim. Sehingga menjadikan kaum muslimin sebagai pengikut dengan
pemikiran, standar dan arah peradaban Barat.
Aspek industrial
tentu tidak dapat dilepaskan dari target market ekonomi kapitalisme yang berpusat
pada produksi. Menjadikan industrialisasi target pembangunan. Apalagi negara
dengan jumlah penduduk yang besar. Mereka para kapital membutuhkan pangsa pasar
yang besar untuk menjual produk. Bukan hanya itu, tapi juga untuk membangun
peradaban yang besar.
Belum lagi
bonus demografi yang terjadi menjadi windows oppotunity (peluang) yang sangat
strategis bagi sebuah negara untuk dapat melakukan percepatan pembangunan
ekonomi dengan dukungan ketersediaan sumber daya manusia usia produktif dalam
jumlah besar.
Pemuda
menjadi aset yang berharga di sebuah peradaban. Pada pandangan pembangunan
sebuah negara pun dibutuhkan pemuda. Sebuah kutipan pidato Bung Karno yang
sangat terkenal patut kita jadikan contoh betapa besarnya potensi pemuda.
Berikan aku 1.000 orangtua , niscaya akan aku cabut Semeru dari akarnya. Beri
aku 10 pemuda, niscaya akan aku guncang dunia.
Wajar bila
kita dapati bahwa pemuda terjerat dengan lifestyle hidup kapitalisme Ketika negara
tidak memiliki regulasi yang baik. Justru mendorong pemuda sebagai penggerak
ekonomi kapitalisme yang sangat jauh dari nilai agama. Negara hanya bertugas
sebagai penonton kebijakan yang dibuat oleh para kapital pemilik modal.
Bukankah Islam
telah memberikan paket komplit yang bukan hanya mengatur ibadah, namun juga
ekonomi serta segala aspek kehidupan. Membangun peradadan yang maju dengan
benar. Yaitu mampu membangkitkan bukan hanya pembangunannya, namun peradaban
mulia dan diridhoi oleh Allah SWT.
Sebagaimana
shirah menceritakan kisah inspiratif yang luar biasa dengan peran pemuda didalamnya.
Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, Muhammad Al-Fatih adalah sedikit pemuda
yang berhasil menyebarkan Islam hingga ke 2/3 dunia.
Para
pemuda harus segera disadarkan dan diselamatkan dari pemikiran kapitalisme.
Namun, berharap pada penguasa sekuler dan sistem yang diterapkannya tentu bukan
pilihan. Justru keduanya bertanggung jawab atas hilangnya kekuatan dan potensi
yang ada pada kaum muda. Padahal, melalui tangan merekalah peradaban cemerlang
diharapkan bisa kembali ke pangkuan umat Islam.
Sesungguhnya
tiadalah kemalangan yang besar kecuali menjadikan Islam sebagai poros kehidupan.
Menjadikan ketaatan total pada syariat kepada-Nya. Mutlak dibuthkan para pengemban
yang menyadarkan pemuda muslim yang terlena dengan kapitalisme. Tentu tidak
mudah namun pasti bisa.
Wallahu A’lam

0 Komentar