Kapitalisme, Berwajah Humanis Tapi Sadis
Oleh: Lismawati-Mahasiswi dan Penulis
Pernah nggak sih kalian ketemu sama seseorang yang wajahnya
ramah banget. Bisa jadi konyol, murah senyum and humanis abis. Sebagian dari
kita mungkin punya orang-orang disekitar yang seperti itu. Tapi ternyata
dibalik cover wajah humanis yang ditampilkan ada sesuatu yang menyeramkan.
Tau nggak sih kalo banyak banget drama yang mengangkat tema
berwajah dua. Didepan tampak ramah dibelakang Nampak naudzubillah. Nggak usah
jauh-jauh ke Korea buat lihat drama yang relate sama kehidupan kita saat ini.
Di Indonesia udah banyak, dari mulai sinetron cinta penuh terselubung hingga
drama sambo berjilid-jilid.
Kalau ngomong drama dunia nyata yang seperti sinetron, kita
juga harus bahas permasalahan lain yang nggak kalah menyita perhatian. Mulai
pergaulan yang luarbiasa rusak hingga harga BBM yang terus naik mencekik
masyarakat. Lah kok kesitu segala? Iyalah kita harus buka mata melihat
kesengsaraan saudara kita di luar sana.
Pertanyaan tentang kemanakah pemimpin yang dulu mengaku akan
mensejahterahkan rakyat? Bilangnya sih tidak akan menaikkan BBM, mengurangi
angka hutang, memberantas korupsi. Agaknya hal ini menjadi slogan yang
berkelanjutan dari pemimpin sebelumnya yang hanya membuat janji manis di depan.
Faktanya, kita disuguhi kehidupan yang nggak
mensejahterahkan bahkan memanusiakan sama sekali. Akibat dari penerapan sistem
hidup yang tidak tepat, kita sebagai warga negara dianggap beban. Lucu ya,
padahal isi dompet para pemimpin juga dari rakyat. Buat ngurusin kita agar
sejahtera. Bukan bikin nelangsa terus.
Sistem kapitalisme membuat pemimpin yang harusnya mengayomi
dan bertanggungjawab terhadap yang dipimpin hilang berganti keuntungan semata.
Yang penting untung. Cover dulu dibagusin biar dipilih setelah itu ganti wajah
asli yang luar biasa sadis terhadap rakyatnya. Nggak peduli berapa banyak
jumlah rakyat miskin. Jangankan penghasilan UMR, ada yang dimakan tiap hari aja
udah bagus.
Tau nggak sih kalo sistem ini memang tegak di atas akidah
dan standart hidup yang rusak. Akidah sekularisme yang menafikan peran agama
dari kehidupan, serta memiliki aturan yang bersandar pada nilai kemanfaatan.
Sistem ini yang jadi biang kerok terbuka lebar ruang buat para pemilik modal
menguasai Sumber Daya Alam yang harusnya dinikmati dan dikelola buat
kesejahteraan rakyat.
Rakyat mah cuma dapat getirnya doang. Kerja banting tulang
hasilnya masih melarat. Karena system hari ini memang nggak bikin kita kaya.
Gimana bisa bahagia, kalo gaji habis buat kehidupan sehari-hari. Itupun nggak
cukup, nombok hutang iya. Belum kebutuhan makan, Pendidikan, Kesehatan, dsb.
Pantas banget kalo ada Menteri yang bilang bahwa orang miskin dilarang sakit.
Emangsakit kita yang minta. Konyol.
Kaum muslim punya aturan yang luar biasa sempurna mengatur kehidupannya.
Bukannya kesejahteraan aja yang mereka dapat kalo menjadikan Islam sebagai
aturan kehidupan tapi juga rahmat dari Allah semesta Alam. Dimana sistem Islam
tegak atas asas keimanan kepada Allah. Yang menciptakan manusia tapi juga
Pengatur Manusia.
Tentunya aturan Islam harus ditegakkan secara Kaffah dalam bingkai
negara Islam yaitu Khilafah. Sistem politik, hankam, Kesehatan, Pendidikan akan
mampu mewujudkan kestabilan, kemadirian dan kedaulatan bagi negara. Pemimpin
akan bertindak sebagai pengurus dan pelindung urusan umat, menegakkan hukum
atas rakyat.
So, sudah waktunya kaum muslim itu melek dan sadar bahwa
pemimpin hari ini tuh hanya mencari keuntungan semata. Nggak mau ngurusin umat.
Mereka berdiri gagah seolah jadi superhero penolong. Padahal mereka lah yang
buat rakyat makin sengsara karena kebijakan yang diambilnya. Jangan tertipu
dengan cover polos ataupun manis yang ditampakkan karena pemikiran sistemik
yang sadis.

0 Komentar