Pemuda? This Is Me!

 Pemuda? This is Me!



Oleh : Diyanatul Izzah-Content Creator


Di tengah permasalahan sosial, mulai dari tetangga, teman atau bahkan negara atau luar negara, menjadi pertanyaan bagi kita sebagai pemuda, "Sikap apa yang harus aku ambil? Apakah aku harus peduli?" Ditambah lagi fakta pemuda hari ini yang sama sekali tak acuh terhadap permasalahan sosial di sekitarnya. Padahal, pemuda adalah harapan bangsa dan agama.

 

Seperti yang kita ketahui, bahwa banyak fenomena yang sudah terjadi pada tahun yang menjelang 2023 ini. Mulai dari masalah CFW, penggunaan kerudung hingga kembalinya Israel menyerang tanah Suci Palestina. Dan berbagai peristiwa yang semakin menambah daftar peradaban saat ini.

 

Sayangnya, kebanyakan para pemuda memilih tidak acuh pada permasalahan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya. Ia tidak peduli, ia tidak mau tahu yang penting dirinya aman-aman saja. Biasanya mereka menggunakan dalih, tidak mencampuri urusan orang, "Lah yang penting dia ngga merugikan kita!" Dan dalih - dalih lainnya.

 

Inilah yang menjadi euforia dan tepuk tangan para penjajah Islam, karena berhasil membutakan pemuda dari jati diri sebagai seorang Muslim. Kemajuan atau kehancuran bangsa dan negara banyak tergantung pada kaum mudanya sebagai agent of change (agen perubahan). Pada setiap perkembangan dan pergantian peradaban selalu ada darah muda yang memeloporinya.

 

Lantas, bagaimana sikap kita terhadap permasalahan sosial sebagai pemuda Muslim? Apabila kita coba flashback pada zaman terbaik, yaitu zaman Rasulullah dan para sahabat, banyak diantara pemuda disana yang berkontribusi besar terhadap perjuangan Islam. Menjadi bukti, bahwa mereka tidak acuh dengan berdalih, "Yang penting aku udah masuk Islam, masalah Islam gimana, ngga peduli!" Inilah menjadi bukti pedulinya pemuda terhadap agama dan peradabannya.

 

Kalau kita coba telaah, ternyata para sahabat memahami hakikat dari kehidupan, mereka memahami bahwa mereka adalah pemuda yang diharapkan. Sebab itu, Sahabat Ali rela menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidur, padahal saat itu bisa saja kaum Quraisy langsung membunuhnya, tapi karena sahabat Ali tahu bahwa ini adalah sebuah kehormatan karena ia berhasil menjaga Rasululllah, maka ia rela mati di jalan Islam. MasyaAllah! Inilah dia, pemuda yang rela berkorban untuk agamanya! Bahkan nyawa sekalipun. 

 

Memahami hakikat kehidupan, dimana kita tersadar bahwa dunia hanyalah sementara, melainkan akhirat selamanya, menjadi pengingat kita bahwa posisi kita bukanlah posisi main-main. Allah ciptakan kita untuk persiapan bekal menuju akhirat Bersama-sama, lantas bisakah kita acuh terhadap saudara kita yang terombang - ambing kemaksiatan. Sedangkan kita tak peduli! Apa yang akan kita jawab saat Allah tanya peran kita sebagai pemuda?

 

"Santai aja kali, masih muda, nanti aja pas dah tua" Umur tidak ada yang tahu, bisa jadi besok, nanti malam atau bahkan 5 menit kemudian Allah memanggil kita. Tidak ada yang tahu, sebab itulah menunda-nunda amal kebaikan sudah pasti berujung pada penyesalan.

 

So, jadilah pemuda yang peduli terhadap saudaranya. Dengan apa? Pastinya dengan DAKWAH! Ingat bahwa kita adalah pemuda, bukan orang tua apalagi anak - anak. Maka, potensi terbesar ada pada kita, sebab itu sangatlah tidak patut apabila pemuda tak acuh terhadap jati dirinya, terhadap sekitarnya, bahkan tak peduli terhadap agamanya.

 

Wallahu A'lam

 


Posting Komentar

0 Komentar