Oleh : Lismawati S.pd
Dalam malam-malam panjang desah nafas ini masih mengalun. Berirama dengan baur yang menjadi satu. Bertelungkup dengan dingin membawa tenang yang kian syahdu. Saat samar terdengar sayup alunan ayat-ayat yang mengalun menemani tempat lelap berpadu.
Kini, malam semakin sunyi. Ramadhan akan menyambangi diri dan memberikan banyak kesempatan untuk memperbaiki pribadi. Setiap fase hidup pasti memberikan arti yang berbeda-beda setiap waktunya. Entah itu dengan kesia-siaan ataupun berkebalikannya.
Menghitung hari sayup itu akan terdengar. Yang di penghujung malam menuntut untuk terjaga. Diatas sajadah kepala ini akan merendah. Semata mengharapkan Ridho Sang Maha Kuasa. Mereguk nestapa yang masih terasa sama di hadapan Sang Pencipta.
Tahun ini, nampaknya para pengemban harus menunduk lebih lama dan tersedu dalam pengharapan. Saat mantra semangat untuk melewati ramadhan kini belum menunjukkan hasil yang sesuai harapan. 'Semoga tahun ini adalah Ramadhan terakhir tanpamu Imamah'
Mengapa belum membuahkan hasil?
Jawaban dari pertanyaan itu ada disetiap hati kita. Sudahkah setiap pengemban berusaha maksimal untuk mewujudkannya? atau justru mereka terlena oleh dunia. Dan hanya mengingatnya saat suasana Ramadhan datang kembali?
Telah lama setiap diri menanti kehadirannya, Namun fakta datangnya bukanlah prioritas kita. Kita sibuk hanya untuk kenyamanan dan penghidupan dunia. Saat itu masih pantaskah gelar pengemban itu tersandangkan, bila visi misi diletakkan dalam angan.
Wahai para pengemban, apakah kita akan mengulang matra yang sama lagi saat ramadhan kali ini datang menyambangi? berharap khilafah tegak disaat kita begitu lemah untuk berjuang. Sementara kedzaliman sistem buruk terus merajai umat.
Kamu bilang rindu ingin bertemu, tapi diam tak bergerak maju. Kamu bilang sudah berjuang, Tapi aktivitasmu banyak berporos pada dunia. Ramadhan akan datang, dan kita tetaplah sama. berharap, berharap dan terus berharap tapi minim aksi.
Bertahun-tahun kita telah menyulam rindu penuh sendu. Saat ramadhan berlalu dan harapan masih memerlukan waktu. Kehidupan masih rusak dan sebagian besar kaum muslim masih tertidur. Hidup dengan penuh kesengsaraan.
Dimana kamu temukan sebuah keadilan saat ini? bila sistem masihlah salah dan rusak. Kita yang mengetahui bahwa ada sistem Islam yang terbaik. Justru terjebak dalam penyakit wahn yang menggerogoti jiwa.
Tidaklah sebuah cita-cita dapat terwujud tanpa sebuah usaha. Sebagaimana pula kehidupan kaum muslimin tidak akan menentramkan bila mereka menjadikan Islam hanya sebagai identitas pelengkap. Tanpa mau mengikuti aturan hidup yang telah ditetapkan.
Untuk mereka yang saat ini berjuang untuk kesejahteraan dan keadilan dalam penghidupan Islam. Semoga Allah menguatkan langkahmu untuk terus tegak dan tidak berpaling dari dakwah. Semoga Allah mencabut penyakit cinta dunia kita. Dan berjuang hanya untuk akhirat kita.
"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."
0 Komentar