Kekasih Yang Tak Dicintai
Oleh: Isma Adwa Khaira-Mahasiswi dan Praktisi Pendidikan
Setiap pecinta pasti menginginkan rasa yang dimiliknya berbalaskan. Apalagi bila janji cinta telah terucap menambah kesucian sebuah cinta. Namun, bagaimana bila cinta itu ternyata palsu? Begitu manis di lisan namun hampa di dalam hati. Hingga kekasih itu tak lagi di cintai.
Ironi bukan? Saat kamu mencintai dengan sepenuh jiwa dan
raga, sang kekasih justru tak membalasnya. Rasa sakitnya mungkin tidak dapat
dijabarkan oleh kata-kata bila itu terjadi pada manusia. Mungkin ini ironi di
atas ironi bila hal itu terjadi pula pada Sang Pencipta.
Baru-baru ini jagad dunia maya nampaknya memberikan berita
terbaru, ter-uptodate, dan terviral setiap detiknya. Yaitu saat salah satu
politisi negeri ini menghina Allah yang dianggapnya lemah. Bukan hanya politisi
ini saja. Banyak orang yang terang-terangan menghina Allah, Nabi dan Al-Qur,an.
Yang sangat disayangkan adalah ketika penghinaan itu terjadi
sedikit sekali yang maju dan lantang balik menantang para penghina. Sebagian besar
memilih abai, sebagian yang lain justru membela penghina. Hukum yang berlaku di
negara mayoritas muslim pun tidak membuat jera para penista agama.
Analogi yang sama jika sebagaian kamu muslimin telah
kehilangan rasa cintanya pada Sang Pencipta. Mereka mengucapkan mencintai namun
abai saat kekasihnya dihina, dilecehkan dan dicaci. Cinta itu hanya terucap di
bibir namun tidak ada dalam hati dan tingkah laku.
Mengapa kaum muslimin hari ini berakhir seperti ini? tidak
lagi meneladani para sahabat dimasa Rasulullah dan dimasa kekhilafahan
berlangsung. Sebagaimana Umar bin Khattab yang tidak segan memukul siapapun
yang menghina Rasul. Bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.
Pada masa ini, kaum muslimin telah menjadikan kecintaan pada
dunia sebagai poros dalam hidupnya. Mereka rela diatur oleh sistem sekulerisme
bukannya Islam. Menina bobokan mereka dengan lulabi individualis, materialistic
serta sekuleris. Sehingga hati mereka menjadi mati seklaipun yang dilecehkan
adalah Tuhan yang harusnya mereka jadikan poros.
Belumlah seseorang disebut Muslim sejati bila hatinya tidak
merasa terhina menyaksikan tindakan kesewenang-wenangan terhadap Tuhan, Nabi
dan kitab kita. Bahkan belumlah seseorang disebut beriman kalau kecintaannya
kepada Islam menempati ruang terluar dari jiwanya.
"Kasihan sekali Allah-mu ternyata lemah, harus dibela.
Kalau aku sih Allah-ku luar biasa, maha segalanya, Dialah pembelaku selalu dan
Allahku tak perlu dibela,"
Membela Allah bukan menunjukkan bahwa Tuhan kita lemah. Namun
untuk menunjukkan bahwa kecintaan kita pada-Nya adalah nyata. Bukan sebuah
bualan semata. Hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
“Demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, seorang diantara kalian tidaklah
beriman, sehingga aku lebih dia cintai dari kedua orang tua maupun
anaknya." Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari.
Kasus berulang seperti ini harusnya menjadi tamparan nyata
bagi kaum muslimin bahwa mereka berada pada titik nadir kelemahan mereka. Kaum muslimin
tidak lagi memiliki kekuatan untuk menjadi tameng kuat agar Islam dan Pencipta
tidak lagi dianggap lemah. Bahwa mereka
tidak lagi menjadi umat terbaik karena tidak memiliki kekuatan apapun bahkan
untuk membela Tuhannya.
Sudah saatnya kaum muslimin tidak lagi menjunjung dunia
diatas agama mereka. Meninggalkan sekulerisme yang membuat mereka menjadi
individualis dan materialistis. Membuat mereka cinta dengan dunia dan abai
terhadap Allah.
Umat Islam harus segera bangun dari tidur panjangnya. Karena kasus serupa akan terus terjadi di masa depan. Bila kaum muslimin tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan para penghina. Maka jangan lagi mengabaikan kekasih kita yang sesungguhnya. Yang mencintai kita tanpa batas, sekalipun kita selalu keluar dari perintah-Nya.
0 Komentar