Palestina dan Lemahnya Penguasa Muslim
Oleh: Lismawati S.pd
"Cukup aku saja yang melakukan pembalasan terhadapmu, tidak perlu Nabi Muhammad yang melakukannya"
Seruan tersebut dikatakan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi ketika Reginald de Chatillon, Raja Katholik di daerah Karak menghina Islam dan Rasullullah saat menawan kaum muslimin. Sultan Shalahuddin sering kali merasa sedih dan berduka cita ketika beliau mengingat tentang Jerusalem yang masih berada ditangan Pasukan Salib dimasa itu.
Sejarah tidak akan pernah melupakan bagaimana goresan tinta emas perjuangan Shalahuddin Al-Ayyubi menghadapi kaum agresor tentara Salib bangsa Eropa hingga Baitu Maqdis mampu berada dalam dekapan umat Islam. Setelahnya, Pemerintahan Islam yang wilayahnya kian meluas melintasi benua Asia, Eropa, Afrika, hingga Asia Tenggara.
Lemahnya Penguasa Muslim
Tidak dapat dipungkiri meski telah 100 tahun lebih Pemerintahan Islam hancur, jejak sejarah yang luar biasa terukir dengan begitu apik. Saat penguasa kaum muslimin menjadikan Islam sebagai pondasi dan tolak ukur dalam memimpin negara. Umat Islam pun menjadi kuat dan adidaya.
Apa yang terjadi di Gaza saat ini menjadi bukti bahwa negeri-negeri muslim begitu lemah dan seolah tak berdaya dalam membela dan membebaskan Palestina. Padahal bila ditilik lebih dalam lagi berdasarkan situs Global Fire power Pakistan menduduki peringkat ke 7 di dunia dengan jumlah personil militer 654 ribu. Turki pada peringkat ke 11, Indonesia diurutan ke 13, Mesir di urutan ke 14 dan Iran di posisi 17. Sedangkan Israel sendiri pada urutan ke 18 dari 145 negara di dunia (Cnnindonesia.com)
Artinya, kekuatan militer Israel jauh dari negara-negara Muslim yang berada beberapa tingkat diatasnya. Namun yang mengherankan justru negara-negara Muslim tersebut begitu lemah dan tak berdaya ketika dihadapkan dengan persoalan Palestina hingga 75 tahun.
Lemahnya Negara, Lemahnya Penguasa
Ketidakberdayaan negara-negara Muslim terletak pada kelemahan para penguasanya. Dari segi militer memang unggul, namun tidak akan membantu bila penguasanya lemah. Israel hanya kekuatan "kecil' dibandingkan dengan negara diatas. seandainya kaum muslimin mengerahkan setengah dari kekuatannya maka Israel akan hancur. Namun, mereka memilih diam dalam negoisasi tanpa aksi yang nyata.
Kondisi umat Islam yang terpecah belah serta penguasa yang tidak benar-benar peduli pada penderitaan rakyatnya, apalagi Palestina. Yang mereka pedulikan hanya pencitraan dan kepentingan nasional sendiri. Tidak heran mengapa Penjajah merasa sombong dihadapan umat Islam seluruh Dunia.
Rasulullah Saw bersabda, "Hampir-hampir bangsa-bangsa (kâfir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka". Seorang sahabat bertanya, "Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?"
Beliau menjawab, "Tidak. Bahkan pada hari itu kalian banyak, tetapi seperti buih di lautan. Dan Allah akan menghilangkan rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Dan Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kalian." (HR. Abu Dawud no. 4297)
Saat puluhan ribu muslim terbunuh dan jutaan mengungsi dari kampung halaman mereka. Umat muslim dunia hanya menonton tanpa bisa berbuat apa-apa untuk mengusir penjajah yang semakin merajalela, sedangkan penguasanya hanya sibuk retorika dan membangun citra.
Kenyataan ini semestinya menjadi renungan bahwa persoalan Palestina tidak akan selesai dengan perundingan dan solusi nation state ditengah pemimpin umat yang kehilangan kehormatannya. Umat Islam butuh kepemimpinan Islam yang melindungi dan mengurus rakyatnya, serta berkhidmat demi kemuliaan Islam dan umatnya.
Kepemimpinan dibawah naungan Islam dalam sebuah bingkai institusi Khilafah yang diwariskan oleh Rasulullah dan para Khalifah setelahnya. Dimana akidah dan syariat menjadi landasan. Yang akan menyatukan seluruh umat Islam di seluruh dunia. Dimana persoalan Palestina segera teratasi mengingat entitas Zion*s yang kecil.
Wallahu A'lam.

0 Komentar