The Choice
Lismawati S.pd
"Jika kamu memilih untuk tidak menanam bunga pada tamanmu, maka rumput liar akan tumbuh baik itu tanpa dorongan semangat ataupun bantuan"
Selama manusia hidup, ada aktivitas yang tidak pernah berhenti dilakukan yaitu memilih. Disetiap fase kehidupannya yang terus berputar dan dihadapkan pada pilihan-pilihan. Ingin bekerja apa, memakai pakaian seperti apa, ingin tidur di jam berapa, atau memakan makanan apa serta lain sebagainya. Begitu juga tentang agama.
Ingin menjadi muslim atau tidak, muslim yang baik atau buruk, mengerjakan kewajiban dan meninggalkan keharaman atau justru larut dalam kemaksiatan. Mengerjakan sholat atau meninggalkannya, tepat waktu atau justru mengulur-ulur waktu. Semua adalah pilihan.
Berbicara tentang perubahan tentu kembali lagi bahwa itu bergantung pada pilihan kita. Ingin berubah menjadi lebih baik atau tidak, itu pilihan. Namun, banyak orang yang mengatakan bahwa perubahan pasti selalu terjadi. Bahwa tidak ada satu yang tetap di muka bumi ini.
lihat juga: https://muslimahfaith.blogspot.com/2022/10/kamu-muslimah-kamu-mulia.html
Guided Changing Or Un Guided?
Setiap perubahan tentu ada yang terarah atau justru tidak terarah. Maka pilihan itu harusnya jatuh pada Guided Changing (perubahan terarah) agar perubahan membawa kita naik level kebaikan. Meski fakta juga banyak perubahan tanpa arahan kita. Perubahan yang memiliki banyak pengaruh bagi masyarakat adalah perubahan struktural atau politik. Dimana perubahan ini akan memberikan dampak pada banyak aspek. Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Sosial Budaya dan lainnya.
Perubahan yang melibatkan bukan hanya subyek politik, namun lebih pada institusi dan sistem politik pada suatu masyarakat. Seperti yang terjadi pada Uni Soviet di era Mikail Gorbachev yang membawa negara itu meninggalkan komunisme. Sehingga harus berhadapan pada nilai-nilai baru yang berbeda dengan nilai sebelumnya.
Perubahan secara konstitusional formal atau non formal. Formal seperti pemilu yang merupakan media utama perubahan jalan konstitusional formal. Para partai politik berkontestasi memperebutkan kursi dan suara rakyat.
Karena hal ini peran para oligarki atau pemilik modal sangat menentukan. Sudah menjadi hal umum bahwa mereka (para oligarki) yang mendanai para calon. Dengan berbagai janji kompensasi dengan proyek atau keistimewaan perijinan. Jadi sepadan jika akhirnya yang terpilih menjadi penguasa tidak lagi mementingkan hak rakyat, justru bertentangan dengan kepentingan rakyat.
Pada jalan perubahan konstitusional non formal dimana rakyat dan penguasa bekerja berdasarkan pada ideologi dan sistem tertentu yang memiliki hubungan sepanjang ada kesamaan pemahaman (mafaahim) tentang hal berbagai hal pokok dalam masyarakat, tolak ukur (maqaayis) dan rasa puas hati diantara keduanya (qanaa'at).
Jika masyarakat muslim memahami mafaahim, maqaayis dan qanaa'at Islam maka akan terlihat keburukan sistem sekuler dan kedzaliman penguasa. Maka perubahan kearah Islam berupa terwujudnya kehidupan Islam dapat terjadi.
Harapan bahwa perubahan besar dapat terjadi masih ada dan terbuka lebar. Diperlukan pemahaman umat terhadap M2Q Islam serta kembalinya para tokoh pemegang simpul umat. Jika dalam perubahan yang diinginkan menghasilkan kebaikan di dunia dan akhirat, maka haruslah perubahan ke arah Islam.
Maka penting untuk menetapkan capaian perubahan tertinggi yaitu terwujudnya kehidupan Islam dengan penerapan syariah secara kaffah sehingga Rahmat Islam dapat dirasakan secara nyata.
Semua membutuhkan proses dan waktu. Maka tekuni, ikhlasi dan Sabari membersamainya dengan doa, ikhtiar. InsyaaAllah cepat atau lambat perjuangan itu mencapai hasil yang diharapkan. Wallahu A'lam.


0 Komentar