Pasuruan Terancam
Kekeringan,
SDA Sebagai Ajang
Bisnis Kapitalisme
Oleh: Lismawati
Forum Koordinasi Pengelolaan DAS Kabupaten Pasuruan atau FDP mendata bahwa terjadi penurunan
debit Mata Air Umbulan dari 6.000 liter/detik tahun 1980 menjadi sekitar 4.000
liter/detik pada 2018. Data tersebut menunjukkan bahwa ada penurunan debit air
yang cukup signifikan pada Sumber Mata Air. Dimana DAS Rejoso menjadi sumber
mata air dengan debit terbesar di Pulau Jawa.
Dimulai eksploitasi berlebihan, alih guna lahan dari hutan
menjadi pertambangan, pabrik dan perkebunan. Pembabatan hutan yang tidak lagi
mengindahkan keseimbangan ekologi tersebut semata-mata dilakukan demi
kepentingan ekonomi. Penggunaan air untuk kebutuhan masyarakat, industri serta
bisnis air kemasan membuat cekungan air tanah kian mengering.
Diwakili Asisten Deputi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan
Konservasi SDA Mochamad Saleh Nugrahadi, Menteri Koordinator
Kemaritiman dan Investasi RI, Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsar
Pandjaitan menyampaikan pesan penting pengelolaan SDA secara berkelanjutan,
tidak hanya untuk alam tapi juga untuk menjamin keberlangsungan bisnis
pengusahaan sumber daya alam.
Senada, Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf juga berharap tingginya
minat kalangan swasta untuk menjalankan usaha berbahan bahan baku air diikuti
dengan peran aktif dalam pelestarian lingkungan guna memastikan keberlanjutan
usaha. Sehingga dibuatlah program percontohan skema ko-ivestasi jasa lingkungan
untuk konservasi hulu dan tengah DAS Rejoso.
Eksploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh pihak swasta
untuk bisnis air kemasan menjadi salah satu penyebab besar kekeringan yang
terjadi di Kabupaten Pasuruan. Belum lagi musim kemarau panjang yang tidak
kunjung usai kian menambah panjang kekeringan. Sudah menjadi keharusan
pemerintah untuk menfokuskan titik perhatiannya pada kondisi masyarakat.
Lebih lagi, air menjadi sumber utama keberlangsungan kehidupan
manusia. Pemerintah bertanggungjawab atas hal ini, bukan mengutamakan jaminan
terhadap keberlangsungan bisnis para kapital. Kapitalisme membabat habis SDA
untuk keuntungan pribadi tanpa mengindahkan dampak yang terjadi. Meski pemeliharaan
air dilakukan namun tidak dapat mengatasi sumber utama kekeringan. Yaitu ekspolitasi
SDA.
Kapitalisme menjadikan Sumber Daya Alam sebagai lahan untuk
mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Tanpa mengindahkan dampak yang
terjadi pada daerah sekitar eksploitasi tersebut. Sekalipun dibuat skema
konservasi untuk mengatasi hal ini namun tak lepas dari ajang mencari kemanfaatan
bisnis.
Pada Islam didapati bahwa pengelolaan Sumber Daya Alam jauh
berbeda dengan pengelolaan ala Kapitalisme. Tidak ada unsur kemanfaatan ataupun
bisnis karena berkaitan dengan kebutuhan hidup masyarakat. Pemerintahan Islam
justru akan mengelola dan menjaga alam untuk keuntungan warga negaranya. Menjadikan
Pemerintah sebagai pelindung dan pengurus urusan masyarakat.
Sejatinya, memang dalam Islam saja lah kita dapati kehidupan
yang rahmat bagi seluruh alam. Dimana penguasa bertanggungjawab, mengayomi dan
menjadikan kemaslahatan masyarakat yang utama. Mengelola alam tanpa merusaknya
dan dijaga agar warga dapat memanfaatkan alam sesuai kebutuhannya. Karena SDA
bukan untuk diperjualbelikan atau kepentingan individual.
Sepatutnya umat Islam hanya menjadikan Islam sebagai
satu-satunya sistem terbaik mengatur kehidupan. Bukan kapitalisme yang jelas hanya
mencari keuntungan. Maka jadikanlah Islam sebagai pengatur hidup bermasyarakat
dan mengelola SDA agar Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr terjadi di negeri
kita.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan
menambah (nikmat-Ku) untuk kalian. Namun bila kalian mengingkari (nikmat-Ku),
maka sungguh azabku sangat berat. [Ibrâhîm/14:7].

0 Komentar