Titik Nadir, GAZA







oleh: Lismawati



Per 8 November 2025, 
Sebulan setelah gencatan senjata Hamas dan Israel, jumlah korban tewas di Gaza terus bertambah, mencapai 69.169 orang. Lebih dari 240 warga Palestina tewas sejak perjanjian disepakati. Tentara Israel terus menembak warga yang mendekati 'garis kuning' di Gaza utara dan selatan. (https://news.ambisius.com/2025/11/09)
 

Ratusan ribu terluka, infrastruktur kesehatan nyaris runtuh, dan kelaparan memasuki fase akut. Gaza telah sampai dititik nadir!


Kepala Kantor Media Pemerintah Gaza, Ismail al-Thawabta, Israel belum memenuhi komitmennya dalam perjanjian gencatan senjata berkaitan dengan masuknya bantuan dan barang penting. Mirisnya yang masuk ke Gaza adalah barang yang tidak dibutuhkan, sementara tepung, beras ,susu, daging sangat langka, sehingga malnutrisi masih merajalela.


Bahkan Doctor Without Borders mengatakan ini adalah pembantaian terencana (Al-Jazeera,9/8/2025). Mirisnya dunia Islam masih belum melakukan tindakan nyata agar peperangan ini berakhir. Sungguh hati ini seperti di sayat melihat tangisan anak-anak Gaza dan harapan yang direnggut dari mereka. Dunia sekali lagi masih diam!


Tidakkah cukup kenyataan didepan mata para penguasa tentang apa yang dilakukan oleh Zionis? pembunuhan, penangkapan, penyiksaan. Para penguasa negeri-negeri muslim justru bersikap pengecut dengan tunduk pada negara super power (AS) yang jelas-jelas berada disisi Zionis dan menjadi penopang mereka.


Satu Tubuh, Satu Umat, Umat Muslim.


Nabi Muhammad SAW bersabda, "Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya" diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, dan Muslim.


Sejatinya, dalam Islam kaum Muslimin diibaratkan satu tubuh, yang bila salah satu anggota tubuhnya sakit, maka yang lain akan merasakan yang sama. Terpecah-pecahnya negeri muslim menjadikan kita tidak lagi merasa satu tubuh. Tidak peduli meskipun mayoritas muslim asal bukan negeri sendiri yang diperangi tidak masalah. 


Nasib buruk kaum muslim itu tidak terlepas dari ketiadaan benteng yang dapat memberikan perlindungan politik terhadap jiwa, harta, dan kehormatan mereka yaitu Khilafah Islam. Saat gelombang perampasan wilayah yang terus terjadi di Palestina, sesungguhnya Gaza adalah benteng terakhir kaum muslim Palestina yang belum ternoda oleh tangan Zion*s yang senantiasa berlumuran darah kaum muslim.



كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتابِ لَكانَ خَيْراً لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفاسِقُونَ


“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [3]: 110).


وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ


Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 190).



Tidak patut bagi penguasa muslim untuk tunduk patuh dan takut kepada negara penjajah. sesungguhnya kemuliaan itu hanya didapati dalam Islam, dibawah kepemimpinan khalifah dan dibawah naungan daulah Islam.


wallahu A'lam



Posting Komentar

0 Komentar